Hening yang hilang
Kulirik jam dinding itu. Pukul 21.33. Masih sore, pikirku. Tapi, ah, tiba-tiba aku ingat ketika itu. Aku merasa dalam waktu yang sama, namun ia adalah pertanda malam yang larut. Ketika pukul 21.30 begitu ditunggu-tunggu. Yah, setelah itu kita akhiri belajar malam. Atau sebut aja muajjah malam (Mudzakarah ma’al isyraf).
Sungguh, malam menjelang jam-jam sekian begitu nikmat. Rasa kantuk memunculkan bayangan-bayangan kamar dengan kasurnya yang tak terperi. Begitu membuai mereka yang ingin segera nyampe di kamar. Meskipun tertatih dan ngantuk di jalan. Atau bahkan ketiduran di kelas lepas belajar. Saking nggak kuat, akhirnya tergelepar di atas bangku keras.
Namun, itulah nikmatnya malam yang hilang dariku. Aku kehilangan nikmatnya kantuk dan betapa melihat 21.30 tidak lagi sesuatu yang ditunggu. Bahkan 01.00 masih ’sore’ begitu teman bilang. Entah siapa yang salah, atau mata indonesia yang begitu aib jika tidak kenal begadang, atau memang kita haru adaptasi dengan budaya yang belum tentu itu baik. Entah….
Ting…ting…, dan jika tanda itu terdengar, serempak kampung damai menggemakan do’a tidurnya. Mereka duduk berjajar di depan asrama, berbaris dan bersama membaca do’a sebelum akhirnya absent malam dan…. menuju kasur masing-masing. Tak ada lagi lalu lalang di jalan, kalaupun kebetulan bel berdentang sedang kamar masih jauh, terpaksa berdiri dan baca do’a ditempat. Atau kalo sempat, kabur dan lari. Sebelum keamanan pondok memberdirikan. Sungguh indah dan langka…
Tak lama, kampung itu sepi. Tinggal beberapa santri kelas lima ngobrol ringan di depan asrama. Malam itu kebetulan mereka piket malam. Sepi dan hening, bebas dari aktivitas. Seolah hiruk pikuk seharian lenyap ditelan sepi tanah dan angin kering.
Malampun merayap, lepas sepertiga malam, pemandangan berganti. Lampu-lampu sudut asrama menjadi saksi. Beberapa santri bangun dan ambil air wudlu. Kemudian membangunkan teman samping atau bahkan saudara di asrama lain. Tak lama kemudian, mereka larut dalam sujud panjang dalam malam yang dingin. Namun, siapa pula yang peduli dengan mereka-mereka. Hanya malam yang tahu, hanya bintang yang mengintip dari langit menjadi saksi jalan mereka ke masjid. Ketika jamaknya orang-orang tidur, mereka bangun untuk bersujud kepadanya.
Tak banyak yang tahu, namun Dia ada. Kalau pun mereka tidak dikahui oleh sesama dalam pergaulan, ghoiru musta’mal di lajnah-lajnah atau firqoh-firqoh, namun mereka dikenal di kalangan penghuni langit. Akankah tidak iri jika mengingat yang ini? Begitu sabar dan istiqomah. Meskipun mungkin, mereka belum membaca janji-Nya yang pasti di surat az-Zumar ayat 10. Lantas alasan apa untuk tidak mengambil i’tibar dari fenomena ini???
Camkan! Dan temukan dirimu ditengah mereka, adakah??!! Atau masih enggan untuk mengakui kelemahan sendiri?!! Mulailah dan sekarang saatnya!.
November 2nd, 2007 at 1:16 pm
Kalo aku paling susah disuruh begadang. Pengennya tidur mulu :))
Pengen banget sih kayak orang Jepang. Tengah malam, perpustakaan umum justru rame dikunjungi orang. Kerjanya minimal 12 jam. Brangkat jam 9 pulang jam 9 malam. Itu minimal. Aku heran banget. Napa ya mereka bisa tahan banting gitu :-?
ehh.. jadi ngelantur ke jepun. :))
hehehe..
maap ya. :)>-
November 19th, 2007 at 4:16 pm
jadi malu hehehehe…
soalnya di kairo kan masuk dalam komunitas kelelawar hitam alias orang yang cuka bergadang…
moga2 dilain hari gadangnya sambil dzikiran ato baca qur’an gitu….
:d
November 28th, 2007 at 7:18 am
Begadang itu kan emang dianjurkan…! perintahnya adalah ” Qumillail illa qoliila “… artinya ..ya..bangun malam2 kecuali sedikit saja ( untuk tidur )…
Kl mo tidur..pagi2 aja deh.. ba`da subuh… jadi pagi2 itu jangan begadang…itu namanya menyalahi aturan! kl mo begadang ya..malam itulah waktunya….
hahahah ngacow..!!=))
November 28th, 2007 at 7:33 am
ya nih, ngaco (banget)… lha ayatnya disalah tafsirkan tuh :-?
memang kalong kayak gitu kerjaannya…. :d