Oleh-oleh dari Alexandria
Pagi hari itu agak lain. Selesai subuhan tidak lagi nerusin mimpi seperti biasa :). Saya sambar celana dan kaos kusut, masuk ke kamar sebelah. Numpang nyetrika. Nunggu setrika panas, saya seduh coffe mix. Lumayan, buat mengusir keinginan nyamperin kasur. Karena kalau hal itu terjadi, akan hancur rencana hari ini…
Yup. Hari ini kami ada janji dengan seorang seniman, kaligrafer dan designer grafis dari Alexandria (Iskandariah), Yousry Hassan. Itu sebabnya, hari ini kami berempat (saya, Alim, Yoyok dan Ircham) berencana berangkat jam 07.00 pagi. Selain perjalanan yang lumayan jauh, kami juga belum tau pasti rumah yang akan kami tuju. So, segala acara dan janji hari ini terpaksa kami cancel. Afwan… :(
Rencana berangkat jam 07.00 molor. Seperempat jam setelah itu 2 rekan datang ke kamar. Siap sedia. Sementara, saya sendiri belum mandi, hiks. Baru setengah delapan kami bertiga keluar kamar,langsung miscall satu kawan lagi. Hp-nya mati! Alamak… begitulah, setelah kesana-kemari dan diakhiri dengan session mengambil sarapan dua telur rebus di dapur, kami akhirnya menuju halte bus. Waktu hampir menunjukkan pukul delapan!
Kereta ato bus yach?!
Angkot jurusan Ahmad Hilmi yang kebetulan longgar mengantar kami hingga terminal yang terletak di belakang stasiun Ramsies. Hampir setengah jam di jalan, diskusi singkat berlangsung. Akankah naik kereta, atau cari bus? Setelah rapat dengar, kami sepakat naik kereta. Dengan semangat kami menuju loket. “Kereta ke Alexandria berangkat pukul sembilan pagi, harga satu tiket 30 pound,†demikian si penjaga bilang. Whaaa… mahal banget. Usut punya usut ternyata kami di loket kereta kelas dua yang lumayan bagus (bisnis kali). Kami akhirnya pindah ke loket kelas ekonomi :(. Harga tiket 9.5 pound. Namun kembali diskusi kecil kami gelar. Karena ternyata kereta ekonomi baru berangkat nanti jam 11.00 nanti. Dan perjalanan menyita waktu sekitar 4 jam! Bisa-bisa kami terlalu sore sampe tempat….
Dengan azas mufakat, kami putuskan balik ke loket kelas dua. Cerita selanjutnya malah lucu, karena penjaga loketnya yang menolak. Alasannya kereta 5 menit lagi mau berangkat dan tiket nggak bisa kembali. Kita terlalu mepet pesan ticket. Setelah setengah ngotot dan kami janji mau lari ke kereta, akhirnya empat tiket seharga 120 pound jatuh ke tangan juga. Seorang penjaga berteriak menyuruh kami lari, ketika kereta di jalur satu sudah siap meluncur. Baru kali ini saya lari-lari mau naik kereta. Jadi sekarang bisa membayangkan, nggak enaknya orang ketinggalan kereta!
Nice journey!
Alhamdulillah, akhirnya kami berhasil menemukan tempat duduk, tepat sebelum stasiun kelihatan menjauh. Tempat duduk kami di gerbong enam. Lumayan penuh namun kelihatan bersih dan nyaman. Bangku sengaja kami putar berhadapan, biar leluasa ngobrol dan mempersiapkan materi buat menguras ilmu-nya pak Yousry :).
Tapi begitulah, bukannya ngobrol serius, malah kita saling kasih komentar hal-hal yang terlihat di jalan. Maklum, kami sama-sama lama nggak naik kereta. Pun snack yang kami beli, menambah enaknya ngobrol tanpa judul itu. Hampir dua puluh menit, kereta sudah jauh keluar kota Kairo. Terlihat kemudian hamparan kebun dan sawah yang bikin ingat rumah (wah mulai nelongso nih). Kebun jambu, jeruk, dan macam-macam tumbuhan kelihatan subur menghijau. Memang musim sedang berganti :). Musim dingin di ambang pintu. Sepanjang jalan kami lihat sawah-sawah sudah mulai digarap. Banyak kerbau, sapi, kambing dan alat2 bajak yang ngangeni. Indah.
Seorang kawan berkomentar, kalau naik kereta seperti gini enak. Selain tempat duduk lebih longgar, kita juga bisa bisa menikmati pemandangan yang jarang terlihat ketika naik bus. Kita juga bisa bernostalgia dengan suasana kampung halaman. Dalam hati, saya menduga kalau dia lagi kangen kerbau-nya hahaha… lha wong yang banyak kelihatan di luar adalah kerbau, kambing, sapi dan kawan-kawannya.
Saya sendiri, perjalanan itu tergantung dengan siapa kita jalan, ehm..ehm.. Jangan ke mana-mana dulu….Hayalan pun muncul. Jika sekarang saya bersama dulur2 sekeluarga naik kereta ke Alexandria. Wuih, tentu rame dan seru! Lantas saya cerita macam2 di jalan. Tentang Mesir, Azhar, Kairo, Alexandria dan macam-macam lagi. Ya, dan tentu saya berharap perjalanan ini akan lebih lama :). Dan yang jelas, saya nggak akan bisa berhenti bercerita hehe… Untungnya, saya sadar, karena saya dapati kawan duduk saya nggak berubah, dan masih makan snack!. :( Caape’ dech! Memang, membayangkan yang nggak-nggak bakal rugi! Tuing! *-:) Hayalan2 itu pun saya buang jauh2. Mendingan perjalanan ini saya gunakan untuk istirahat. Maklum, semalam jam tiga baru bisa tidur.
Kesan pertama….
Tepat setelah dua jam di perjalanan, kereta akhirnya berhenti di stasiun Sidi Gaber (Sayyid Jaabir), Alexandria. Tepat pukul 11.05 kami sudah berada di luar stasiun yang lumayan besar tersebut. Seorang kawan akhirnya menelpon Pak Yoursy. Mengabarkan bahwa kami telah sampai Alex. Sekaligus tanya rute untuk bisa ke rumah beliau. Tapi ternyata, kami disuruh menunggu sekitar 20 menit di depan stasiun, karena beliau sendiri akan langsung menjemput kami.
Agak lama juga menunggu, hingga muncul sedan biru muda metalik. Sosok yang berwibawa dan penampilan rapi keluar sambil memanggil ke arah kami. “Ya ‘Aalim, ta’aala†beliau memanggil nama salah satu di antara kami, yang beliau kenal sewaktu pembukaan pameran di Sa’ad Zaghlul bulan yang lalu. “Ahlan wa sahlan… nawwartum Iskandariah. Tasyarrafna bi majiikum. Kaifal hall, kaifal akhbar…†dan sederet kalimat2 pembuka buat basa-basi yang kadang perlu. Setelah salaman dan memperkenalkan diri seperlunya, kami dipersilahkan masuk mobil. Stasiun Sidi Gaber pun terlihat menjauh, dan kami sudah berada di tengah hiruk pikuk kota Alexandria siang itu….
Sepanjang jalan, tidak berhentinya beliau mengungkapkan rasa senang beliau atas kedatangan kami. Ahlaan… marhaban… alhamdulillah… kaifal haal.. dan seterusnya. Beliaupun bertanya tentang studi kami. Tentang fakultas, tingkat, jurusan, dan juga tentang belajar kami di madrasah kaligrafi di Mesir. Alhamdulillah, tidak lama setelah itu, suasana pun mulai cair. Obrolan di dalam kendaraan pun akhirnya semakin hangat. Ketika melewati tempat tertentu, tidak lupa beliau menerangkan nama dan asal-usulnya. Maklum, beliau asli penduduk Iskandariah. Lahir, tumbuh dan menetap di sana.
Pribadi yang semanak dan grapyak.
Sebenarnya kami merasa gak enak (sungkan) dengan Pak Yousry. Ya, karena kami tau kapasitas beliau yang sibuk di mana-mana. Tidak kepikiran bahwa beliau segitunya menghormati tamu-tamunya. Namun karena pribadinya yang semanak dan ramah. Kami seolah-olah berada di negeri sendiri.
Di awal perjalanan, kami lebih banyak mendengar beliau yang menerangkan nama-nama tempat dan sesekali pula memberi tahu designer beberapa gedung yang ada di sana. Dari mulai daerah Ibrahimiah, Raml, Maidan Sa’ad Zaglul, Maidan Mansyea, serta monument Al-jund al-Majhuul (Pahlawan tak dikenal) dan Perpustakaan Alexandria (Bibliotheca Alexandrina), hingga akhirnya kami sampai Mantiqah Bahriy. Daerah ini mempunyai pemandangan khas yang tidak ada di tempat lain. Kapal-kapal kecil nelayan bertebaran memenuhi pinggiran pantai. Warna-warni kapal dipadu background langit kebiru-biruan melahirkan kesan yang lumayan artistik. Alami dan cantik! Belum lagi, dari sini kami juga bisa menikmati benteng Qitbay berdiri kokoh tidak jauh dari masjid. Yup Alexandria memang kota yang menawan!
Masih di daerah yang sama, berdiri masjid yang beberapa tahun yang lalu baru dipugar. Terlihat ornament model fathimiyah dan kaligrafi corak tsulust dan beberapa kaligrafi gaya bebas, memenuhi dinding dan atap masjid ini, Masjid Manarul Islam. Di sini, kami melepas lelah sebentar dan menunaikan sholat dzuhur dan ashar, jama’ taqdim.
Selesai sholat, kami jalan-jalan santai di sekitar benteng Qitbay. Angin yang datang dari laut, semakin membuat dingin hawa Alexandria yang memang sudah dingin. Sepanjang jalan, banyak terlihat penjual cenderamata, wisatawan domestik maupun mancanegara, dan beberapa orang yang asyik memancing. Obrolan kami sambil jalan-jalan membuahkan pengetahuan baru tentang sejarah kaligrafi, zuhrufah, hubungan antara keduanya, serta banyak hal yang berkaitan dengan pekerjaan beliau sebagai designer grafis. Terkesan, tidak ada yang beliau tutup-tutupi. Apapun yang kami tanya, beliau berusaha menjelaskannya sedetail mungkin. Seolah kami sudah kenal lama dan bukan siapa-siapa lagi. Ya, beliau adalah sorang yang semanak dan grapyak. Hal itulah yang kemudian membuat kami tidak lagi merasa sungkan dan risih untuk mengorek ilmu lebih banyak…
Es krim Makrom
Jalan-jalan siang kami masih berlanjut. Keluar dari kawasan benteng, kami belok ke arah kanan. Setelah berjalan beberapa ratus meter, sampailah kami di Halaqatus Samak (tempat pelelangan ikan). Tempat ini lumayan besar dan masih lumayan ramai. Karena memang, nelayan dan pembeli melakukan transaksi jual beli ikan di sini. “Jika ingin melihat puncak kesibukan, kita bisa datang antara subuh hingga jam delapan pagi†demikian ujar Pak Yousry kepada kami.
Sepanjang jalan kali ini, kami banyak mendapat ilmu tentang taqhir kertas (proses pengolahan kertas sebelum ditulisi khot). Biasanya masing-masing kaligrafer mempunyai rahasia sendiri dalam seni ini. Seperti campuran bahan-bahan alami dengan pewarna tertentu, sehingga menghasilkan kertas yang terkesan antik. Biasanya, taqhir ini tidak jauh dari penggunaan putih telor dalam finishing-nya. Karena itu, kertas yang sudah melalui proses ini, lebih mudah ditulisi. Dan khattath pun lebih leluasa mengoreksi karya jika salah. Karena putih telor menghalangi tinta menyatu dengan kertas, di samping memberi kesan berkilau. Begitulah memang, rahasia karya seorang kaligrafer, salah satunya terletak di medianya (kertas). Jika bagus pengolahan media maka karya yang dihasilkan akan bagus pula. Di sini keterampilan dalam seni taqhir mengambil peran pentingnya.
Obrolan kami semakin seru ketika pak Yousry mengajak kami mampir makan ruz bil-laban campur es-krim, di sebuah warung es-krim terkenal bernama Makrom. Ruz bil-laban adalah sebutan bagi makanan yang terbuat dari nasi dicampur susu. Dengan pengolahan yang tepat, jadilah nasi bubur nasi bercampur susu manis yang nikmat. Menurut beberapa kawan, sesekali beli makanan ini bisa memperbaiki gizi :). Tidak berlebihan memang, karena jika sudah merasakan, bisa jadi anda pun akan ketagihan. Begitupun dengan kami, apalagi kali ini, ruz bil-laban di meja depan yang siap disantap, dikemas dalam satu tempat dengan es-krim vanilla. Wow..wow.. hehehe. ;);)
Sowan ke rumah Pak Asran Mansiy
Selesai ‘ngemil’ di makrom, kami diantar ke rumah seorang empu kaligrafi murni Alexandria. Saya katakan demikian, karena memang beliau salah satu putra terbaik madrasah khat Iskandariah, Pak Asran Mansiy. Madrasah khat tertua di Iskandariah yang didirikan oleh khattath Muhammad Ibrahim dan diteruskan oleh saudaranya khattath Kamil Ibrahim. Bisa juga madrasah ini madrasah legendaris yang telah menelorkan khattath-khattath andalan. Termasuk Pak Asran Mansiy dan Pak Yoursy Hassan sendiri.
Rumah Pak Asran terletak di lantai tiga sebuah flat di gang kecil yang lumayan sulit dijangkau. Jika tidak diantar, bisa jadi kami tidak bisa menemukan flat ini. Rumah kecil dan terlalu sederhana untuk seorang khattath kenamaan seperti Pak Asran. Hanya ruang tamu kecil yang berdindingkan karya-karya beliau, ruang makan, dapur, kamar mandi dan satu kamar tidur. Berlima kami bertamu, terasa sudah sangat sempit.
Sekali lagi kami merasa beruntung bak mendapat durian jatuh (tapi tidak kena kepala). Keinginan ke Alexandria sebenarnya ingin bertemu Pak Yousry saja. Tidak terbersit sedikitpun untuk mengunjungi khattath atau tempat lain. Namun rupanya, beliau sudah mempunyai rencana sendiri untuk ‘menjamu’ tamu-tamunya. Begitulah, seperti kali ini, beliau bilang ke Pak Asran, bahwa kedatangan kami jauh dari Kairo ke Alexandria, sengaja untuk silaturahmi dan ‘berguru’ kepada Pak Asran. Kontan, sambutan super hangat dari khattath yang kini berusia 73 tahun itu kami terima. Bincang-bincang akrab pun segera berlangsung. Sekitar dua puluh menit –tepatnya setelah disuguh minuman- kami izin pulang. “Masih ada tempat lain yang akan kita kunjungi” demikian alasan Pak Yousry kepada tuan rumah, ketika kami pamit undur diri.
Jamuan Makan Sore di Rumah Sang Seniman
Sebenarnya, target kami selanjutnya adalah khattath Ibrahim Masry. Beliau juga kaligrafer yang lahir dari madrasah Iskandariah. Lebih istimewa lagi, beliau adalah keponakan pendiri madrasah khot Iskandariah, Muhammad Ibrahim. Usia pak Ibrahim tidak terpaut jauh dari pak Asran. Selain itu, nilai plus beliau yang lain adalah kepiawaian beliau dalam dunia seni ornament, hingga sebutan muzahrif (ahli ornament), identik dengan bapak satu ini. Namun terpaksa kami teruskan perjalanan, karena beliau sedang tidak di tempat. Toko kecil di sebuah gang kecil itu telah tutup. Dari luar, terlihat bekas cat yang menempel di beberapa bagian dinding toko. Meskipun agak kecewa, namun cukuplah kali ini kami mengunjungi tokonya saja. :)
Setelah sholat ashar, kami meluncur ke arah jalan Musthafa ‘Ibadi yang terletak di bilangan Mahram Bik. Tepatnya di sebuah imarah (gedung) bernama al-Mubarkiah. Di sinilah, kantor usaha beliau “Arabasic Design†bermarkas. Tidak jauh dari kantor, tepatnya di sebelah kanan lift di lantai yang sama, rumah beliau berada. Pertama kali, kami diajak ke kantor beliau yang ketika itu masih lumayan ramai. Kami pun berkenalan dengan beberapa staff yang sedang masuk kerja. Di antara mereka bekerja sebagai web designer, web programmer, dan designer grafis. Lumayan lama juga kami ngobrol dengan beberapa staff, sambil melihat karya-karya kaligrafi yang terpampang rapih di dinding kantor.
Selain karya Pak Yousry Hassan, beberapa karya yang terpampang di dinding adalah kaligrafi murni corak jali tsulust dengan tinta hitam di atas kertas karton bertuliskan “almulku lillah wahdahâ€. Melihat dari tauqi’ (tanda tangan) yang ada, kami tahu bahwa itu adalah karya kaligrafer Iskandariah, Ahmad Saqar. Kaligrafer ternama sekaligus ahli kimia. Karya-karya beliau yang lain, sempat saya nikmati di pameran kaligrafi tahunan Opera House tahun 2005 yang lalu.
Puas melihat-lihat lukisan, kami dipersilahkan masuk ruang pribadi Pak Yoursy. Kami disuguhi video dokumentasi pembuatan karya-karya beliau yang memakai media air brush di atas kertas karton. Sekitar seperempat jam, kami dipanggil ke luar. “Sa urikum asy-ya`an ukhraa… ta’ala…†(saya akan tunjukkan sesuatu yang lain, mari ikut saya). Dan benar, kami diajak ke rumah beliau.
Rumah itu terkesan luas dan teduh :). Tata ruang yang dibuat seleluasa mungkin membuat kami merasa nyaman. Beberapa lukisan kaligrafi kufi khas ‘madzhab’ pak Yousry bertengger di beberapa bagian tembok, dengan tetap menjaga keserasian tempat. Tidak lama setelah kami duduk, seorang gadis kecil berlari keluar dari dalam rumah. Minah, putri pak Yousry yang berumur sekitar 4 tahun menghampiri kami dengan muka ceria. Kami pun lantas cepat akrab dengan anak kecil ini. Dari gerak-geriknya menunjukkan bahwa Minah adalah anak ceria dan cerdas. Dan begitulah, tidak lama kami pun bergantian menggodanya hingga berlarian keliling ruang depan. Sementara dari dalam, terdengar suara anak laki-laki sedang menangis. Putra pak Yousry pertama, Abdurrahman rupanya sedang ngambek. Sedang putri beliau terakhir bernama Salma, yang masih berusia dua bulan, sedang bersama Ibunya di kamar….
Begitu masuk, kami dipersilahkan cuci tangan dan langsung menuju ke meja makan. Ayam goreng, kuah daging, sayur buncis dicampur tomat serta beberapa lalapan sayur segar siap kami santap. Waktu terus beranjak, maghrib sebentar lagi menjelang…
Acara makan tidak luput dari sharing ilmu. Kuliah singkat dan diskusi ringan tiba-tiba mulai seiring dengan dimulainya jamuan :). Sesekali ayam di tangan menjadi selingan. Topik-topik seputar politik kini menjadi tema menarik. Apalagi hal ini –meskipun agak jauh- masih ada hubungan dengan perkembangan seni kaligrafi khususnya, dan peradaban masyarakat setempat pada umumnya. Sesekali saja, beliau berkomentar tentang peran pemerintah. Topik selanjutnya, banyak membicarakan keadaan umat Islam di tanah air, Indonesia tercinta. Meskipun kadang membosankan, memang topik ini selalu menjadi obrolan hangat bagi mereka yang baru kenal dengan orang Indonesia. Ya, sebisanya pertanyaan beliau kita jawab dengan jujur. Apa adanya….
Selesai makan kami disuguhi jus jambu lalu disusul syai (teh) panas ~o). Ketika itu, adzan maghrib berkumandang. Sambil menghabiskan teh, kami membicarakan salah satu karya beliau yang dihasilkan dari seni air brush. Karya ini merupakan konstruksi ulang dari sebuah karya klasik yang telah berusia 800 tahun! Aslinya adalah sebuah karya pahat dengan ornament yang dekat kepada corak kristen, namun bertuliskan ayat al-Qur’an, surat at-Taubah ayat 111 “Innallaha isytaraa minal mu’miniina anfusahum wa amwaalahum, bianna lahumul jannahâ€. Karya ini beliau tulis ulang dengan media cat memakai air-brush di atas kertas putih. Hanya saja, kesalahan dari segi imla’ yang ada dalam karya tua tersebut, memaksa beliau untuk melakukan permbenahan. “Karena bagaimana pun kesalahan penulisan al-Qur’an tidak bisa dibiarkanâ€. Demikian alasan beliau. Begitu pun corak ornament yang dekat kepada ornament kristen, sedikit beliau tambah dan kurangi. Sebuah pembenahan kongkrit yang mudah-mudahan akan terus berlanjut…
Madrasah Kaligrafi Mahmud Zaki Salim
Selepas nge-syai, kami sholat magrib berjamaah, dilanjutkan sholat isya’ jamak taqdim. Setelah menyerahkan sekeping DVD berisi beberapa rekaman video plus file kaligrafi lainnya, kami diajak beliau kembali turun dari apartement. “Jika nanti ada waktu, kita kembali ke kantor lagi. Akan saya copykan beberapa file lain yang belum sempat tercopy. Sekarang, kita akan berkunjung ke Madrasah Khot Mahmud Zaki Salim†demikian ujar pak Yousry sejenak sebelum kami keluar rumah.
Madrasah Khot Mahmud Zaki Salim baru berdiri tiga tahun yang lalu. Pak Yousry sendiri termasuk pemrakarsa madrasah ini. Wajar, di umurnya yang masih belia, madrasah ini terlihat banyak sekali peminatnya. Sesuai dengan umurnya pula, kelas tertinggi di madrasah ini adalah kelas tiga. Sementara kelas empat –sebagai kelas tertinggi- di jenjang diplom khot belum ada. Apalagi kelas diplom takhossush, yang merupakan jenjang lanjutan diplom.
Lokal madrasah Khot “Mahmud Zaki Salim” menempati gedung yang setiap pagi dipakai untuk Madrasah Tsanawi Banat (setingkat SMA, khusus putri). Gedung tersebut masih terlihat bagus dan lumayan layak. Kondisi ini agak jauh jika kami bandingkan dengan kondisi fisik Madrasah kami di Kairo, Madrasah khot “Kholil Agha”. Madrasah yang tiap paginya dipakai untuk SMA khusus putra ini, terbilang sudah tua. Beberapa bagiannya sudah sangat sering ditarmim (dipugar) untuk tetap menjaga kondisinya biar layak pakai. Kira-kira demikian.
Kembali ke Madrasah “Mahmud Zaki Salim”, lagi-lagi sambutan hangat kami terima dari kepala sekolah setempat dan para guru. Kami sampai di lokasi sekitar jam 18.30. ketika itu proses belajar mengajar masih berlangsung. Padahal di Kairo, madrasah kami biasanya bubar ketika jam 18.00. Ternyata memang madrasah Mahmud Zaki Salim mulai ketika jam 17.00, sementara di Kairo, kami masuk kelas jam 16.00.
Begitulah, kami akhirnya diperkenalkan oleh Pak Yousry kepada kepala sekolah para pengajar yang ada. Satu persatu kelas pun kami masuki. Di kelas satu, kami melihat papan tulis penuh denga tulisan huruf ba’ yang disambung dengan beberapa huruf awal hijaiyyah, lengkap dengan mizan nuqtah (ukuran huruf dengan besar titik) yang lumayan bagus. Rupanya memang madrasah ini masih baru mulai pengajaran beberapa minggu yang lalu. “Tidak seperti di Kairo, kita tidak bisa memulai pengajaran ketika Ramadhan, karena padatnya kegiatan para siswa dan dikarenakan sikon ada” demikian lanjut salah seorang guru yang kami tanya sejak kapan dimulai pengajaran untuk tahun ajaran ini. Murid-murid yang hadir lumayan banyak. Baik itu putra maupun putri :). Mereka pun terlihat antusias (karena melihat kami mungkin, hehehe….). Jika sekilas melihat umur, mereka rata-rata adalah mahasiswa-mahasiswi Perguruan Tinggi yang ada di sekitar daerah situ.
Selanjutnya, kami masuk kelas dua. Seperti seorang pejabat yang sedang mengadakan sidak saja, kami sempat membuat situasi kelas berubah (maksudnya dari khusyu’ nulis menjadi gak konsentrasi gitu hehe…). Mungkin karena kami orang asing yang jarang mereka lihat di sekolah mereka. Yang jelas badan kami yang rata-rata kecil di banding mereka, mungkin mengundang pertanyaan. Min gama’ah dul, wa fi eh, humma gaiyin?!.. (siapa mereka ini, dan untuk apa datang ke sini?) mungkin begitulah pertanyaan di hati mereka, weleh… ge’er nih :D.
Hampir sama dengan kelas satu, materi kelas dua juga khot tsuluts. Mungkin karena jadualnya dibuat seperti itu. Hanya saja, tulisan di papan tulis sudah berbentuk tarkiibaat (susunan) huruf-huruf dari ayat al-Qur’an.
Selanjutnya, kelas terakhir yang kami masuki adalah kelas tiga. Pertama kami masuk kelas ini, kami dikenalkan dengan Bu Guru yang mengajar zahrafah (ornament). Tepatnya Bu Rania. (afwan, kalau nama Ibu ini saya hafal, sementara Pak Guru di dua kelas sebelumnya tidak ada yang saya ingat :) ). Yup, pelajaran kelas tiga kali ini adalah zahrafah. Wajah-wajah yang ada pun terlihat beda dari dua kelas sebelumnya. Jika yang tadi terlihat wajah-wajah segar dan semangat, maka di kelas ini, yang mendominasi adalah wajah-wajah tua, tapi juga bersemangat!. Di bangku tengah paling depan, saya lihat bapak-bapak yang sudah berambut putih (untuk tidak mengatakan kakek2). Dengan telaten-nya beliau menggambar bur’um (bentuk pentolan di tengah bunga atau ranting ornament) dan juga rubath (garis yang menghubungkan dua ranting ornament yang berdekatan). Sementara di pojok kelas, terlihat dua orang ‘tua’ juga sedang ngobrol akrab. Salah satu-nya adalah mantan pegawai bank yang (katanya) sudah dinon-aktifkan.
Seperti di dua kelas sebelumnya, kami diminta oleh Pak Yousry untuk mengenalkan diri kepada segenap warga kelas. Memang beliau benar-benar punya skenario khusus bagi kami. Begitu masuk kelas, pelajaran langsung kacau. Bu guru pun minggir. Dan kelas diambil kendali oleh Pak Yousry untuk sementara waktu. Dengan bahasa yang enak, seperti ngobrol dengan kawan sendiri, Pak Yousry menjelaskan bahwa kami yang dari jauh (dari Indonesia) datang ke Mesir untuk belajar kaligrafi di Kairo. Tepatnya di Madrasah Kholil Agha. Selain itu –dengan kalimat hiperbolis- beliau memuji ilmu agama kami, dikarenakan kuliah kami di al-Azhar. Bahkan salah satu di antara kami (om bayok) sudah berhasil menyelesaikan strata satu-nya di fakultas Ushuluddin jurusan Akidah dan Filsafat. Begitu…
Sekali lagi, beliau memanfaatkan waktu kali ini untuk memberi motivasi kepada kami (tamunya) maupun kawan-kawan di Madrasah. Beliau pun menceritakan bahwa perjalanan Kairo-Alexandria bukan perjalanan singkat. Intinya jauh serta butuh biaya dan waktu. Namun demi ilmu, seorang wafidin (pelajar dari luar Mesir) tidak menghiraukan itu semua. Ya, seolah-olah kami benar-benar orang yang haus ilmu dan mempunyai keinginan yang sangat tinggi untuk belajar dan mendalami kaligrafi (memang iya sih, tapi kan nggak segitunya :( ).
Setelah hampir 20 menit kami di kelas, seorang kawan mesir membawakan empat botol minuman 7-up. Karena menghormati tuan rumah, kami yang sebenarnya tidak terlalu haus, menghabiskan minuman botol tersebut. Sambil menghabiskan minuman, beliau memperkenalkan kepada kami beberapa murid yang ada di kelas tiga. Pak Yousry juga berkomentar bahwa dua tahun lagi, murid-murid di kelas ini akan menjadi guru dan pengajar kaligrafi di sekolah yang sama. Kontan, disambut oleh senyuman dan kata-kata “ya rabb…”
Semakin malam, semakin hangat kebersamaan kami di sekolah ini. Seolah-olah madrasah ini seperti madrasah kami juga. Para guru pun kelihatan antusias menjawab bebepa pertanyaan yang kami lontarkan. Entah lah, mungkin karena hoby dan kecintaan kita yang sama akan seni kaligrafi, seolah-olah kita pun sudah akrab sejak lama. Dan hatipun terasa berat untuk beranjak keluar gerbang madrasah, ketika Pak Yousry mengajak kami untuk segera pulang.
Satu corak yang kami rasakan di madrasah ini, yaitu pengajaran khot Diwaniy. Khot Diwaniy di madrasah Mahmud Zaki Salim, dan mungkin juga di madrasah Iskandariah yang lain, melestarikan corak Diwaniy Turki. Sementara madrasah kami di Kairo, mengajarkan Diwaniy Ghazlany (Mesir). Juga semangat belajar murid-murid di madrasah ini, lebih tinggi jika dibandingkan dengan madrasah kami di Kairo. Namun satu yang membuat kami bangga, jika dilihat dari kualitas pengajar dan guru yang ada, kami yakin bahwa madrasah kami, masih berada di atas madrasah2 lainnya…. (ujung2nya narsis pisan :D )
Pameran Kaligrafi di Qashr at-Tadzawwuq
Usai silaturahmi dari Madrasah Mahmud Zaki Salim, mobil yang kami tumpangi melaju ke arah Sidi Gaber. Tepatnya ke sebuah gedung yang terdapat hall besar bernama Qasr at-Tadzawwuq. Jika dilihat dari fungsinya –sebagai tempat pameran seni- mungkin tempat ini bisa disamakan dengan Markaz el-Jazira dan Saqiyah el-Sawiy yang ada di Zamalek, atau Markaz Tal’at Harb di Sayyidah Nafisah.Segera kami ke lantai tiga, yang ketika itu sedang ada pameran kaligrafi dan beberapa karya seni lain lain. Seperti ukiran batu dan pahatan kayu. Di ruangan yang lumayan luas ini, kami melihat pameran kaligrafi yang bercorak ragam. Gado-gado. Jika ditebak, mungkin akan mengesankan hasil karya beberapa orang kaligrafer. Namun ternyata, semua karya kaligrafi yang dipajang, baik itu dengan media kayu, kulit, plastik, kertas, kain tenun, hingga paduan khot dengan seni fusaifisak adalah buah karya seorang kaligrafer. Ya, seorang dan tidak lebih. Dia adalah Fannan Sa’id Muhammad ‘Abdul Qadir. Kelahiran Iskandariah tahun 1945. Bachelor Fakultas Perdagangan, pernah belajar seni lukis bebas di London, serta diplom madrasah kaligrafi dengan nilai kelulusan terbaik se-Mesir di tahun angkatannya.
Secara jujur saya katakan bahwa beliau seniman hebat serta menguasai banyak media dalam berekspresi. Jarang saya temui seniman atau kaligrafer yang mau mendalami semua media dan berlanjut dengan eksperiment yang membuahkan karya ‘layak pameran’. Dari sini mungkin kelebihan beliau bisa kita sampaikan. Namun di sisi lain, beliau kurang terlihat fokus pada seni kaligrafi itu sendiri. Jika lebih cermat membandingkan karya beliau yang ada, saya rasa kita akan sepakat bahwa khot kufi-lah yang ‘lumayan’ sejalan dengan qaidah taqlidiyyah yang ada selama ini. Itu pun jika kita tidak membahas secara detail tentang warna dan pola garis serta kerapihan dalam finishing karya. Lebih lagi, jika kita lihat corak diwani, naskhi, tluluts dan farisi. Bisa jadi, rasa percaya diri pun muncul. Jika bapak satu ini bisa membuat karya yang kayak begini, kenapa saya tidak? :) Tetapi bagaimana pun juga, pengalaman dan perjalanan hidup beliau lah yang sebenarnya sulit untuk disamai. Hal itu yang kemudian membuahkan sebuah filsafat di balik setiap karya. karenanya, karya apapun yang telah ditelorkan oleh beliau sangat layak untuk mendapatkan apresiasi. Setidaknya, kami sudah memberikan hal itu, di awal kunjungan kami ke tempat ini. Qasr at-Tadzawwuq.
Di samping pameran kaligrafi tunggal, ada juga pameran seni pahat dan ukir. Beberapa karya yang ada adalah ukiran Lafdzul Jalalah di batu, dan beberapa pahatan lain di atas kayu. Kesemua batu-batu dan kayu yang sudah dirubah menjadi susunan huruf-huruf Arab atau ayat al-Qur’an merupakan karya seorang seniman, Abdul Wadud. Meskipun dilihat dari usianya yang sudah senja, tetapi semangat beliau dalam berkarya rupanya menjadi daya tarik hingga malam itu, salah satu stasiun TV meminta waktu untuk wawancara.
Balilah “Syaikh Wafiq”
Selesai mengambil foto dengan beberapa seniman dan mendokumentasikan karya-karya kaligrafi-nya Pak Sa’id, kami mohon diri. Kami kira waktu sudah terlalu malam. Ketika itu, tepat pukul 20.20 kami keluar dari Qashr Tadzawwuq. Inginnya kami langsung izin untuk pulang, takut ketinggalan kereta lagi :(, sekalian mumpung dekat dengan stasiun, karena kita masih di daerah Sidi Gaber. Kami sudah berusaha basa-basi dengan ucapan terima kasih dan nyerempet-nyerempet ingin pulang gitu :D, tetapi rupanya Pak Yousry-nya sengaja gak paham kali hehehe… Malah kita di ajak memutar ke arah Hayy al-Bahr, dekat dengan Hayy Qadimah (kampung lama) yang berada di pesisir. Kemudian mobil kami parkir tepat di depan sebuah rumah makan, “Syaikh Wafiq”, demikian tulisan di plang depan rumah makan terlihat jelas!
Rumah makan tersebut tidak begitu besar, tetapi sangat ramai. Dari luar kelihatan sangat penuh, bahkan mungkin harus ngantri untuk dapat tempat duduk. Masih di dalam mobil, Pak Yousry setengah berteriak kepada seseorang yang sengaja menunggu pelanggan di luar. Dan tidak lama, beliau pun bercakap akrab dengan orang tersebut. Kelihatannya, tempat ini memang sudah langganan tetap Pak Yousry. Tidak beberapa lama kemudian, seseorang lantas membawa 5 kotak plastik makanan dan 5 gelas susu hangat ke mobil.
Kami sendiri masih aneh dengan makanan yang sudah di tangan. Jujur saja, ini kali pertama kami makan makanan jenis ini. Jangankan namanya, lha wong bentuknya saja nggak pernah lihat. Paling-paling di kairo makan tho’miyyah atau sekali-sekali togin (makanan ‘murah’ meriah di Mesir). Pak Yousry lantas memberi tahu, kalau makanan itu namanya Balilah, dan susu hangat tadi adalah kuah yang dituang untuk memudahkan kita makan. Balilah adalah makanan yang secara singkat rasanya manis. Ya, bahkan terlalu manis. Komposisinya saya kira juga terkesan gado-gado. Bahan utamanya adalah tepung gandum, lalu diberi campuran biji-bijian di atasnya. Seperti kismis, kacang-kacangan dan entah apa lagi. Satu porsi bagi kami terlalu banyak, apalagi jika terlalu manis malah bikin eneg. Tapi bagaimanapun, kita berusaha untuk menikmatinya….
Syaikh Wafiq dan Balilah mungkin dua nama yang sudah akrab di telinga orang Iskandariah. Sambil terus makan, Pak Yoursy kembali bercerita tentang rumah makan ini. Beliau menjelaskan bahwa “Syaikh Wafiq” dulu berupa warung kecil yang tidak terkenal. Namun karena kegigihan dan perjuangan, sekarang hampir tidak ada orang Iskandariah yang tidak mengenalnya. Dari cerita beliau tentang asal muasal, pendiri pertama dan penerus bisnis rumah makan ini, kelihatannya beliau cukup kenal baik dengan pemilik rumah makan tersebut. Dan ujung-ujungnya, beliau memang ‘mengaku’ langganan dan selalu datang ke warung ini jika ada waktu. Atau jika ada tamu spesial yang datang ke Alex.
Beliau kemudian menyebut beberapa nama ‘besar’ yang juga pernah beliau ajak m-Balila di “Syaikh Wafiq” ini. Sebut saja, Pak Tamimi. Staff IRCICA, Turki pun diajak ke sini ketika ‘main’ ke rumah beliau. Dan mudah-mudahan, kami pun bagi beliau juga tamu spesia yang setingkat pak Tamimi… weks Ge Er…..:D
Yang jelas, kami tambah sungkan dengan beliau satu ini :). Ya, bagi saya, satu pelajaran yang bisa saya ambil dari Pak Yousry ketika makan Balilah malam ini. Beliau selalu tidak pernah menganggap remeh hal-hal kecil. Dan menganggap bahwa segala sesuatu meskipun itu remeh, sebagai hal penting!
Kursus kilat menjelang pulang
Selesai ‘ngemil berat’ di Syaikh Wafiq, kami kira akan segera di antar ke stasiun atau terminal. Rupanya kami salah, karena mobil malah menjauh dari daerah Sidi Gaber. Kira-kira sepuluh menit di jalan, kembali kami sampai di Mahram Bik, kembali lagi ke kantor beliau, “Arabasic Design”. Di kantor, hanya tinggal satu orang yang mungkin giliran jaga. Sampai di dalam kami sejenak berdiskusi, karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.15. Selain pulang kemalaman, kami melihat Pak Yousry juga sudah sangat capek. Akhirnya kami terus terang minta izin, dan sudah terlalu banyak kami menyusahkan beliau. Namun kami masih ditahan sejenak. Kami diminta sekitar setengah jam untuk masuk ke ruang beliau. “Setengah jam saja, saya minta waktu kalian. Akan saya perlihatkan bagaimana proses design sampul buku, setelah itu nanti saya antar ke terminal, gimana?” Demikian ungkap beliau. Tentu saja, kami tidak bisa menolak. Bagaimanapun juga, waktu setengah jam sangat berharga bagi kami untuk bisa belajar langsung dari beliau…
Kursi ruangan kami susun sedemikian rupa. Sehingga kami bisa melihat beliau di depan komputer MAC-nya yang double monitor. Setelah meminta kepada staff-nya untuk membuatkan minuman untuk kami, beliau lantas bercerita tentang proses design cover buku, terutama proses pemilihan warna serta sentuhan akhir di photoshop CS-2. Meskipun capek, namun beliau masih saja semangat dalam menerangkan setiap langkah dan membuka contoh-contoh design. Baik yang masih mentah maupun yang sudah jadi. Di samping menerangkan design cover, beliau juga memutarkan video seminar kaligrafi tentang seni Ibro, di laptop HP-nya.
Begitulah, rupanya beliau ingin malam itu kita pulang ke Kairo tidak dengan ‘tangan kosong’. Waktu yang singkat benar-benar beliau manfaatkan untuk memberi kita apa yang beliau punya.Tentang design cover, sudah tidak terhitung lagi berapa banyak yang sudah beliau hasilkan. Dalam satu hari, rata-rata delapan hingga sepuluh design yang beliau selesaikan. Kesibukan itu juga yang akhirnya membuat beliau tidak sempat untuk mengumpulkan semua hasil design-nya dalam sebuah katalog. Tentang partner dalam membuat cover, beliau menyebut beberapa khattath. Salah satunya adalah Pak Hammadah, khottoth Kairo yang juga guru kami di Madrasah Kholil Agha. Juga Pak Musthafa ‘Amari, seorang khattath yang sering menulis judul di cover buku. Namun karena kesibukan yang ada, pak Musthafa kini tidak bisa bergabung lagi.
Beralih ke seni Ibro, Pak Yousry merekomendasikan kami untuk belajar langsung kepada seorang guru kami, Pak Ahmad Faris. Menurut beliau, untuk seni Ibro, Pak Faris cukup kompeten. Sementara untuk Taqhir kertas, Pak Yousry menyarankan kami untuk menemui Pak Khudair. Pak Khudari (Mus’ad Khudair al-Bursa’idi) adalah khattath Mesir asal Port Said yang kini tinggal di ‘Abidin. Beliau mempunyai kios kaligrafi dan memasang pemeran tetap-nya di belakan Qism Gamaliyyah, daerah Husain. Selain ketua dan pendiri Persatuan Kaligrafer Mesir (al-Jam’iyyah al-Mashriyyah al-’Ammah lil Khattil ‘Arabiy) Pak Khudair juga anggota dewan juri tetap, peraduan kaligrafi Internasional yang diadakan oleh IRCICA, sebuah lembaga penelitian dan pengembangan seni dan literatur Islam yang berada di Istambul, Turki.
Setelah mencopy DVD-kan video seminar, kumpulan kaligrafi-kaligrafi, contoh-contoh hasil seni Ibro, dan beberapa file penting lain yang sekiranya bermanfaat, kami pun minta izin pamit. Waktu lah yang akhirnya memaksa kami untuk segera pulang ke Kairo. Setelah mengucapkan terima kasih dan menolak halus tawaran menginap, kami akhirnya kami pun di antar beliau menjauhi daerah Mahram Bik….
Di tangan kami, selain 2 keping DVD, keterangan2 beliau dan obrolan kami yang sempat terekam, juga puluhan eksemplar buku katalog pameran kaligrafi menjadi oleh-oleh….
Mutasyakkir awi-awi ya ustadzna….
Pukul 22.30-an kami di antara ke terminal Iskandariah. Di tengah jalan, tidak henti kami berterima kasih atas sambutan dan ilmu yang sudah beliau tularkan. Pak Yousry sendiri merasa kurang puas dengan apa yang telah beliau berikan. Hari ini, lanjut beliau, masih terlalu sedikit yang bisa beliau tunjukkan kepada kami. Salah satunya, kami belum sempat diantar beliau mengunjungi beberapa tempat hiburan di Alexandria. Beliau ingin lain kali kunjungan seperti ini terulang, dan ingin mengajak kami jalan ke Muntazah, atau tempat lain wisata lainnya. Yang jelas, susah kami ungkapkan dengan apa kami harus berterima kasih.
Bus East Delta jurusan Iskandariah-Kairo sebentar lagi berangkat. Menunggu jam, 23.00 Pak Yousry masih sempat memberi ‘wasiat’ tentang kaligrafi. Benar-benar pribadi yang menarik dan kesempatan sangat langka, hari ini kami bisa full bersama beliau. Kembali rasa terima kasih kami ucapkan ketika kami bersalaman, terima kasih yang sangat dalam kami ucapkan. Saya bilang ke beliau bahwa hari ini, satu hari di Iskandariah, bagi kami rasanya lebih berharga dari pada setengah tahun di Kairo. Beliau melanjutkan dengan mengutip ayat “wayauman ‘ida rabbika kaalfi sanatin mimma ta’uddun….”
Seorang kawan lain menyampaikan harapan, akan bisa mengunjungi beliau lagi untuk kedua, ketiga dan kesekian kalinya. Beliau pun dengan senang hati menunggu kunjungan kami di waktu yang akan datang. Tidak lupa, kami titip salam ke putra-putri beliau di rumah. Kami do’akan semoga beliau sekeluarga diberi kelancaran dan kesuksesan, serta dibalas oleh Allah dengan lebih banyak dari apa yang telah beliu berikan kepada kami hari ini. Beliau pun membalas dan kembali mendokan kami supaya sukses dalam menuntut ilmu…. sebelum akhirnya, beliau kembali ke mobil dan hilang di telan malam.
Kairo, kami pulang….!
Pukul 23.00 tepat kami masuk bus. Dengan tiket seharga 23 pound bus East Delta mengantar kami pulang ke Kairo. Perjalanan sekitar tiga jam. Karena capek yang sangat, kami pun tidak lagi mengobrol berat. Hanya kesan-kesan pribadi yang sempat terlontar, sebelum akhirnya sepi. Saya lihat, rupanya mata-mata kawan di samping sudah mulai mengecil dan terpejam. Weks! Haruskah saya tidur juga? Tidak, saya akan tetap menikmati perjalanan ini sampai akhir cerita…:) Maksudnya akan tetap terjaga hingga bus berhenti di terminal Tahrir nanti. Tapi ternyata tidak semudah itu, karena setelah itu, saya juga tidak tau apa yang terjadi. :D
Akhirnya saya sadar waktu bus kami melintasi depan Giza Zoo, mengisyaratkan bahwa Kairo sudah dekat. Waktu menunjukkan pukul 02.15 dini hari. Ketika melintasi Nil, memasuki Kairo, tidak sengaja saya lihat prakiraan cuaca di perempatan jalan. Di luar rupanya lumayan dingin. 18 derajat!. Dan -Alhamdulillah- akhirnya kami kembali menapakkan kaki di Kairo sekitar pukul 02.20.
Dari terminal Tahrir, kami cari taksi ke asrama Buus, Abbasiah. Jam tiga kurang seperempat kami masuk gerbang asrama. Kembali syukur kami panjatkan. Betapa berharganya hari ini, perjalanan yang bagi kami sarat dengan ilmu. Ilmu yang semoga bisa bemanfaat bagi kami dan bagi kepada kawan-kawan lain… Alhamdulillah.
Bermula dari kekaguman.
Kunjungan ke Alexandria kali bisa jadi agenda yang sama sekali tidak kami duga. Saya sendiri mengenal nama beliau baru tahun 2005 yang lalu. ketika itu, saya beberapa kawan melihat pameran kaligrafi tahunan yang diselenggarakan di Opera House akhir Desember 2005. Di mana, tiga karya beliau saat itu kami anggap sebagai simbol pameran dan ‘karya andalan’ di antara karya 11 kaligrafer lainnya.
Selain itu, nama beliau yang tertuang dalam tauqi (tanda tangan) sering saya jumpai di sampul-sampul buku, kaset, maupun iklan-iklan.Kesan yang ada ketika itu, beliau adalah seorang kaligrafer (khattath) seniman, dan designer grafis yang brilian, kaya ide serta mempunyai kreatifitas tinggi. Keinginan untuk ketemu orangnya secara langsung pun mungkin akan sulit. Mengingat kesibukan beliau (seperti yang tertulis di biodata) adalah direktur utama sebuah badan usaha yang bergerak di bidang design grafis “Arabasic Design†Alexandria. Karya-karya beliau tersebar di musium-musim timur tengah. Belum lagi kesibukan sebagai tutor dan pembicara dalam seminar-seminar seni dan kaligrafi yang sering diadakan baik dalam skala nasional maupun Internasional.
Selain itu, beliau juga anggota Jam’iyyah Mashriyyah ‘Ammah lil khattil ‘Arabiy, Jam’iyyah Muhammad ibrahim lil khattil ‘arabiy, serta anggota Jam’iyyah Mashriyyah lil Funuun at Tasykiliyyah wa Istikhdamat Grafik.
Sedangkan dilihat dari background pendidikan. Beliau adalah orang yang mempunyai basic kuat dalam bidang seni dan kaligrafi. Beliau lulusan terbaik se-Alexandria diploma seni jurusan zuhrufah (ornament) dan advertising, tahun 1989. Tahun 1991 kembali beliau lulus dengan nilai terbaik se-Alexandria dalam jurusan yang sama di program lanjutan. Selanjutnya, pada tahun 1995 beliau menyelesaikan bachelor bidang pengajaran seni dan tarbiyah bidang zuhrufah dan advertising dengan predikat summa cumlaude, dari Universitas Helwan, Kairo.
Berangkat dari kekaguman akan karya-karya yang beliau tuangkan, serta background pendidikan yang memang berangkat dari bidang seni dan kaligrafi, keinginan saya pribadi ingin ketemu dan menimba ilmu kepada Pak Yousry semakin kuat. Tentunya, akan sangat senang bila dapat rahasia-rahasia yang mungkin tidak pernah saya dapati selama ini.
Pucuk dicinta ulam pun tiba
Akhirnya kesempatan pun datang dengan bantuan-Nya. Tepatnya tanggal 22 Oktober 2007 yang lalu, beberapa kawan mengunjungi pembukaan pameran kaligrafi yang diadakan di markas Sa’ad Zaglul ats-Tsaqafy yang berada di museum Baitul Ummah, dekat daerah Tahrir. Sayangnya, saya sendiri karena ada suatu hal, tidak bisa datang :(. Memang, kesempatan terbesar untuk ketemu para kaligrafer dan seniman adalah saat pembukaan pameran-pameran seperti ini. Maka sayang, jika melewatkan pembukaan pameran!
Ketika itu, Pak Yousry melihat rombongan kawan-kawan Indonesia sedang menikmati karya-karya yang ada. Beliau lantas menyapa dan memperkenalkan diri. Kesempatan untuk pedekate dan bertanya kepada beliau pun terbuka. Karena pertanyaan kami seputar cara pembuatan karya, beliau menawarkan untuk mencopy DVD-kan rekaman video pembuatan karya beliau yang ada di laptop. Sayangnya, kami tidak ada persiapan untuk itu. Namun demikian, pertemuan itu cukup bagi kami untuk bisa mengenal beliau lebih jauh. Dan yang lebih penting, beliau mengenal bahwa di sana ada mahasiswa Indonesia yang ingin belajar darinya.
Dari pertemuan ini, setidaknya kami bisa menghubungi Pak Yoursy lebih mudah. Hingga akhirnya kami bertemu kembali pada pembukaan Ma’rodh Kaligrafi di Opera House pada tanggal 01 November yang lalu. Pada hari itulah, kawan kami -Pak Alim Gema- mengungkapkan keinginan kami untuk berkunjung ke Alexandria. Rupanya, keinginan tersebut disambut dengan antusias dan akhirnya, hari itu, satu hari penuh kami belajar banyak dari Pak Yousry.
Dari Mesir Untuk Indonesia Tercinta.
Jika melihat kenyataan akhir-akhir ini, Mesir termasuk ladang subur bagi perkembangan seni kaligrafi. Setidaknya, para jawara dan juara lomba kaligrafi Internasional pun banyak yang berasal dari Mesir. Hal itu menunjukkan bahwa tradisi belajar kaligrafi murni (taqlidi) masih diutamakan. Meskipun demikian, terlihat seni ini bisa bergabung dengan seni rupa, grafis, maupun media modern lain, tanpa harus kehilangan kemurniannya. Sebuah fenomena dan corak kaligrafi yang mungkin tidak mudah kita temukan di tanah air. Di mana, kaligrafi kontemporer lebih cenderung kepada sebuah tradisi pembebasan kaidah murni dan terkesan memberontak.
Setidaknya, dengan berkunjung ke Alexandria kali ini, kami menyerap sesuatu yang kelak bisa kami bawa pulang. Bukan hanya pulang ke Kairo, namun pulang ke bumi pertiwi. Tentunya, kami belum puas dengan apa yang sudah kami dapat hari itu. Masih ingin meng-explore lebih jauh dan lebih banyak, karena masih banyak tokoh dan seniman (fannaan) kaligrafi lain yang belum sempat kami kunjungi. Sekali lagi, mengunjungi Alexandria kali ini semoga menjadi awal langkah kami, untuk mengambil lebih banyak dari Mesir. Ya, dari Mesir, untuk Indonesia :D Why not?!
December 7th, 2007 at 12:58 pm
Dari Mesir untuk Indonesia…Ya Rabb..semoga antum bisa mendapatkan apa yang antum cita2kan…:)>- jujur aja, pengalamannya kerem..berharga banget, bahkan (mungkin) bisa jadi gak akan terulang untuk kedua kali, coz kesan pertama pasti beda ama kesan kedua, ketiga, ke.., ke… :d Chayyooo!! u can do it!:)
December 7th, 2007 at 1:00 pm
eh, salah tulis..keren maksudnya, bukan keremmm…hehe..ngapunten…:d
December 7th, 2007 at 3:23 pm
“[….] Dan yang jelas, saya nggak akan bisa berhenti bercerita hehe… Untungnya, saya sadar, karena saya dapati kawan duduk saya nggak berubah, dan masih makan snack!. Caape’ dech! Memang, membayangkan yang nggak-nggak bakal rugi! Tuing! Hayalan2 itu pun saya buang jauh2[….]”
membayangkan yang nggak2? rugi? moso..? lha wong tangannya nggak lepas dari hp..sms terus..:-\” !!kyknya tulisan ini kmpulan sms ke dirinya ya pak dhe..:D makan snack terus, ya..mending lah ketimbang makan hape..wkwkw…:)>-
December 7th, 2007 at 9:14 pm
terima kasih… antum juga mudah2an mendapatkan yang dicita-citakan. sama2 mendoakan nggih?! chayoo lah!:)
December 7th, 2007 at 9:17 pm
ya iyalah, soalnya ana bayangin antum jadi pendiem dan nggak koment aneh-aneh…. itu kan hal yang nggak2 tho?! sory, gak nyambung :)>-
December 10th, 2007 at 1:59 am
Oleh2nya panjang amat. Perlu waktu panjang untuk membacanya :(
Aku cuma mo komen soal pantai disana. Ternyata gak beda jauh dengan pantai Indonesia.
December 11th, 2007 at 7:27 am
Ngo dinungo mas… wah oleh-olehe luar biasa! dadi pingin nang mesir… btw numpang promo.. vlease visited http://azaxs.wordpress.com smangat!!:)
December 13th, 2007 at 7:06 am
hiiiiiiiii:D
Nur..daku baca comment-nya dulu…baca laporan perjalanannya pending dulu. Panjang aming euy..! Keep on writing lah…!
December 13th, 2007 at 7:06 am
hiiiiiiiii:D
Nur..daku baca comment-nya dulu…baca laporan perjalanannya pending dulu. Panjang aming euy..! Keep on writing lah…!:)>-
January 12th, 2008 at 1:57 pm
wah..seneng banget bisa jalan2 sekaligus dapet ilmu gitu.jadi pengen..tapi btw di libya ada gak ya??hehehe….:)
January 19th, 2008 at 9:24 am
syukron dah jalan2 ke mesir… loh, bnernya saya yang nanya, di Libya ada gak?!
:-?
February 22nd, 2008 at 10:08 am
wahhh ceritanya seru ka,ampe lupa pake kaos kaki,,,heheheh btw sory ga izin dulu ,,,tapi ninggalin jejak ga apa kan,,hehehheehe kapan yah aku diajak jalan2 ama kak “muhammad EM noer:) tuk cari ilmu,,,,,
February 22nd, 2008 at 4:12 pm
jalan2 ya? tapi tunggu minhah dulu..hwekekeke…
Bentar… kaos kaki siapa nih?! :)