Archive for the ‘Kaligrafi’ Category

Paket dari Turki!

Saturday, February 9th, 2008

paket 4 me bro!“Nur, tadi malam saya dapat telpon, kata sulthon ada paketan buat sampeyan dari Turki” demikian bunyi sms yang saya terima dari Alek Mahya, sejenak setelah bangun pagi ini. Sambil loading, saya berusaha menebak. Ada apa dengan Turki dan saya?! Whehehehe…

Whaa..akhirnya setelah loading sekitar 90%, saya ingat bahwa tahun kemarin saya mengirim karya ke panitia peraduan kaligrafi internasional di Turki. Dan di tahun yang sama, saya pun sudah tau pemenang-pemenangnya. Yang jelas, nama saya tidak ada dalam daftar mereka. Hanya saja, sejauh yang saya tau, semua peserta akan dikirim katalog karya pemenang dan daftar seluruh peserta sebagai ‘oleh-oleh’ dan sekedar tanda terima kasih bagi seluruh partisipan. (maaf, paragraf ini banyak kata2 ’saya’ hehehe…) (more…)

Oleh-oleh dari Alexandria

Sunday, December 2nd, 2007

Pagi hari itu agak lain. Selesai subuhan tidak lagi nerusin mimpi seperti biasa :). Saya sambar celana dan kaos kusut, masuk ke kamar sebelah. Numpang nyetrika. Nunggu setrika panas, saya seduh coffe mix. Lumayan, buat mengusir keinginan nyamperin kasur. Karena kalau hal itu terjadi, akan hancur rencana hari ini…

Yup. Hari ini kami ada janji dengan seorang seniman, kaligrafer dan designer grafis dari Alexandria (Iskandariah), Yousry Hassan. Itu sebabnya, hari ini kami berempat (saya, Alim, Yoyok dan Ircham) berencana berangkat jam 07.00 pagi. Selain perjalanan yang lumayan jauh, kami juga belum tau pasti rumah yang akan kami tuju. So, segala acara dan janji hari ini terpaksa kami cancel. Afwan… :(

Rencana berangkat jam 07.00 molor. Seperempat jam setelah itu 2 rekan datang ke kamar. Siap sedia. Sementara, saya sendiri belum mandi, hiks. Baru setengah delapan kami bertiga keluar kamar,langsung miscall satu kawan lagi. Hp-nya mati! Alamak… begitulah, setelah kesana-kemari dan diakhiri dengan session mengambil sarapan dua telur rebus di dapur, kami akhirnya menuju halte bus. Waktu hampir menunjukkan pukul delapan! (more…)

Muhammad Husni

Saturday, February 10th, 2007

Beliau lahir di Syiria pada tahun 1896 M. Dia pindah ke Mesir bersama orang tuanya ketika masih kecil. Bahkan belum masuk sekolah. Belajar khot pertama kali kepada Syaikh Jamal. Sedangkan riwayat yang mengatakan bahwa beliau belajar kepada Syaikh Hasan Husni dari Istambul tidak benar.

Beliau menikah beberapa kali. Di antara putra beliau adalah: Nabil, Faruq, Wasami, ‘Izzuddin sedangkan putri beliau: Su’ad, Najat, Samirah, dan Shobah. Mereka semua bersaudara, namun tidak sekandung. Ketika dewasa, mereka semua tumbuh menjadi seniman.

Hamid al-Amidi

Thursday, February 1st, 2007

Nama asli beliau adalah Musa Azmi. Beliau dilahirkan pada tahun 1891 di kota Diyar Bakr, sebelah tenggara kota Anatolia, Turki. Kota Diyar Bakr ketika itu lebih dikenal dengan nama Amid. Nama inilah yang kemudian ia pakai dalam nama penanya, Hamid al-Amidi. Sedangkan nama asli beliau, Azmi, sering ia pakai dalam tauqi’ pada karya-karya beliau sewaktu muda. Dan ketika masa tua, beliau lebih suka memakai nama sebutan beliau, Hamid. Kaligrafer yang lebih terkenal dengan kepiawaiannya dalam khat tsulust jali ini meninggal dunia pada tahun 1982, dimakamkan di Farjah Ahmad, dekat makam syekh Hamdullah. (more…)

Madrasahku…

Tuesday, December 26th, 2006
madrasah khat 'al-Malakiyyah'Tempat itu tidak terlalu jauh dijangkau dari asrama kami, Madinatul Bu??uts al-Islamiyyah. Bermula dari keinginan pribadi, juga teman-teman yang sehobi, akhirnya kita mendaftarkan diri sebagai pelajar (murid) dari Madrasah tersebut. Madrasah Tahsin Khututh al-??Arabiyyah. Orang-orang menyebut daerah itu dengan Baab el-sya??rea. Sebelah barat sedikit dari arah kota Abbasea. Tepatnya lagi antara daerah Maidan Jaisy dan Atabah. Biasanya kami naik tramco untuk ke sekolah. Ongkosnya ??hanya?? 50 piastres, atau kalo kepepet naik bus jurusan Atabah. Meskipun lebih murah, namun terpaksa harus jalan kaki sekitar 200 meter ke tempat yang kita tuju.

Sejak pertama kali datang ke Mesir, rasa penasaran itu ada. Apalagi mengingat pesan seorang tutor ketika masih pelatihan di Jakarta, sebelum ??terbang?? ke Negeri Para Nabi ini. Beliau mengingatkan bahwa di Mesir, seni ini sangat maju. Mengingat Mesir adalah salah satu dari tempat berkembang dan tumbuh suburnya kaligrafi Islam (selanjutnya disebut khot).

Rupanya keramahan orang di madrasah tersebut, juga syu??un-nya (bagian TU) sedikit merubah image bahwa orang mesir itu kasar dan suka marah-marah. Keramahan itu sudah terlihat sejak pertama kali saya masuki pintu gerbang Madrasah yang lumayan megah tersebut. Di atas pintu gerbang terpampang jelas nama madrasah. ??Madrasah Khalil Agha, ats-Tsanawiyah al-Islamiyyah lil-Banin??. Sekilas membacanya, tidak mengesankan kalau madrasah itu juga dipakai untuk pengajaran khot. Karena rupanya Madrasah tersebut multifungsi. Maksud saya, jika pagi dipakai untuk sekolah umum (Tsanawiyah) dan jika sore, baru ramai di kunjungi oleh para thalib Madrasah Tahsin Khututh al-??Arobiyah.

Tulisan kaligrafi corak diwani sangat indah yang dibebaskan, baru kelihatan setelah saya sedikit masuk. Tepatnya di sebelah kiri pintu utama. Tulisan ??Madrasah Tahsin Khututh al-??Arobiyah??, ditulis di atas batu prasasti ukuran 40X30 yang sudah termakan usia. Hingga beberapa hurufnya ada yang hilang entah kemana. Hal itu wajar, sebab usia madrasah ini konon sudah 80 tahunan, dan termasuk madrasah tahsin khututh tertua di Mesir

Kairo,
Akhir Bulan Sembilan, 05